Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2017

Devotion 833 : SEBUAH PENGAKUAN

Gambar
Devotion 833 - Dr. Heintje Kobstan SEBUAH PENGAKUAN Bacaan: Ayub 42 Suatu pengakuan keluar dari mulut Ayub bahwa selama ini hanya dari kata orang saja ia mendengar tentang Tuhan, tetapi sekarang matanya sendiri memandang Tuhan. Oleh sebab itu ia mencabut perkataannya dan dengan menyesal ia duduk dalam debu dan abu. Apa yang dialami Ayub ketika ia bertemu dengan Tuhan adalah ia diberikan pemahaman yang baru tentang Tuhan. Memang selama ini Ayub hidup dalam kesalehan, kejujuran, takut akan Tuhan dan tidak melakukan kejahatan. Tetapi Ayub dahulu hanya mempunyai pandangan terhadap Allah sebagaimana yang diterimanya dari tradisi. Pengakuannya itu didahului oleh pemahaman akan perbuatan Allah yang besar dan tidak ada satupun rencanaNya yang gagal. Perbuatan dan rencana Tuhan tersebut melebihi pengertian dan hikmat Ayub dan itu merupakan keajaiban baginya. Sehingga ia tersadar bahwa ia tidak layak untuk menghakimi Allah dan menuntut keadilanNya. Semua yang dia lakukan tersebut karena ia h

Devotion 832 : MENUNDUKKAN DIRI DI HADAPAN TUHAN

Gambar
Devotion 832 - Dr. Heintje Kobstan MENUNDUKKAN DIRI DI HADAPAN TUHAN Bacaan: Ayub 41 Ayub merasa hina dan tidak layak untuk mengemukakan argumentasinya dihadapan Tuhan. Seandainya Allah adalah manusia pastilah Ia akan murka terhadap perkataan Ayub yang telah menantang dan meragukan keadilanNya. Ayub mendapat teguran keras dari Allah: "Siapakah yang dapat bertahan di hadapan Aku? Siapakah yang menghadapi Aku, yang Kubiarkan tetap selamat?" (ay. 41:11). Ayub juga tidak akan mampu naik ke takhta surgawi untuk berusaha menghakimi orang fasik. Mengapa Allah menyajikan ilustrasi kuda Nil dan Buaya kepada Ayub? Lewat binatang perkasa ini, Allah ingin menekankan bahwa semua ciptaanNya termasuk binatang-binatang terbuas dan menakutkan pun takkan bisa melawanNya. Dalam kebudayaan Mesopotamia kuno, kuda Nil dikenal dengan nama Behemot dan Buaya disebut Lewiatan. Kedua hewan ini dijumpai bersama di dalam kesenian Mesir. Namun gambaran dan sejumlah rincian tertentu di dalam pasal 40-4

Devotion 831 - BERDIAM DIRILAH

Gambar
Devotion 831 - Dr. Heintje Kobstan BERDIAM DIRILAH Bacaan: Ayub 40 Dalam kehidupan ini, kita seringkali melihat bahkan mengalami ketidakadilan. Bahwa di bawah kolong langit ini akan selalu ada ketidakadilan yang akan menimpa umat manusia. Dan ketidakadilan itu pada akhirnya cenderung dikaitkan dengan Tuhan. Hal ini pun di alami oleh Ayub, ia yang telah menjaga hidupnya dan keluarganya demikian rupa supaya tidak melakukan kesalahan dimata Tuhan namun ia tetap mengalami penderitaan. Sehingga dalam keadaan keterpurukannya di dalam penderitaan, ia mengajukan pertanyaan dimanakah keadilan Tuhan dalam hidupnya? Tantangan agar Tuhan menyatakan keadilanNya diajukan oleh Ayub untuk menghadapi setiap tekanan para sahabatnya. Sehingga ketika Tuhan menantangnya sebagai laki-laki, maka Ayub tersadar bahwa dirinya tidak sebanding dengan Tuhan. Tuhan mengatur segala ciptaanNya dalam keteraturan dan keadilan. Mungkin terlihat tidak adil bagi manusia, tetapi dalam hikmat Tuhan semua telah dilakukan

Devotion 830 : PEMELIHARAANNYA SEMPURNA

Gambar
Devotion 830 - Dr. Heintje Kobstan PEMELIHARAANNYA SEMPURNA Bacaan: Ayub 39 Berbagai pertanyaan yang Tuhan ajukan kepada Ayub ternyata tidak dapat dijawab olehnya. Pertanyaan-pertanyaan itu bermaksud untuk menyatakan kepada Ayub bahwa pengetahuannya tidak sebanding dengan Tuhan. Jadi, keinginan Ayub untuk berdebat dengan Tuhan adalah hal yang percuma. Mengapa Tuhan dalam pasal ini mengetengahkan pertanyaan tentang bianatang-binatang kepada Ayub? Binatang yang hidup di alam liar, dapat berkembang biak dan hidup dengan aman karena semua itu ada dalam pemeliharaan Tuhan. Kalaupun Allah bisa memelihara kehidupan binatang hutan, terlebih lagi manusia yang hidup dihadapan hadiratNya. Dapatkah Ayub memelihara, mengatur dan mengendalikan binatang-binatang liar ciptaan Allah? Singa (ayat 39:1-2); gagak (ayat 3); kambing gunung (ayat 4-7); keledai liar (ayat 8-11); lembu hutan (ayat 12-15); burung unta (ayat 16-21)? Ayub tidak dapat melakukan hal itu. Tidak seorang pun memiliki kedaulatan un

Devotion 829 : BERFOKUS PADA TUHAN

Gambar
Devotion 829 - Dr. Heintje Kobstan BERFOKUS PADA TUHAN Bacaan: Ayub 38 Dipasal ini, Tuhan langsung berhadapan dengan Ayub. Suatu hal yang dinanti-nantikan Ayub setelah sekian lama berada dalam penderitaan. Dalam pertemuan ini, Allah menegur Ayub karena berbicara tanpa pengetahuan. Ia melukiskan rahasia dan kerumitan semesta alam sambil menyatakan bahwa caranya mengatur dunia jauh melampaui jangkauan pemahaman Ayub dan umat manusia. Cara Allah bekerja di alam semesta dan di dunia ini tidak dapat dipahami oleh manusia. Sehingga Allah dengan tegas mengatakan kepada Ayub, "bersiaplah sebagai laki-laki, Aku akan menanyai engkau..." Dalam satu naskah Ibrani dan dalam terjemahan Siria terbaca: sebagai pahlawan (orang perkasa). Kini peranan terbalik: Tuhan menantang dan mengajak Ayub membela diri. Gambaran tentang tantangan ilahi ini diambil dari kebiasaan gulat sabuk kuno. Gambaran ini sangat cocok di dalam konteks ini sebab gulat sabuk juga dipakai sebagai proses pengadilan, da

Devotion 828 : JANGAN GAGAL PAHAM

Gambar
Devotion 828 - Dr. Heintje Kobstan JANGAN GAGAL PAHAM Bacaan: Ayub 37 Seharusnya kita, umat manusia sungguh berbangga mempunyai Allah yang mahaperkasa. Dia adalah Allah seperti yang digambarkan oleh Elihu dalam ketakutannya ia mendengarkan guntur kemarahan Tuhan. Tuhan itu melakukan perbuatan-perbuatanNya yang tak tercapai oleh akal manusia. Jadi bagaimana Ayub dapat memahami perbuatan Allah yang besar? Belum lagi kekuasaanNya yang dinyatakan lewat cuaca, adakalanya turun hujan bahkan salju. Hal ini pun dinyatakanNya untuk memperingatkan manusia ciptaanNya akan kekuasaanNya maupun kasih setiaNya. Elihu bahkan mendesak Ayub untuk memperhatikan keajaiban-keajaiban Tuhan. Karena dengan demikian maka Ayub akan sadar bahwa dirinya telah bersalah dan kemampuannya terbatas. Elihu menuduh bahwa dengan Ayub memajukan kasusnya, ia menganggap dirinya sama dengan Allah. Allah adalah pencipta langit dan bumi dan tidak mungkin Ayub melakukan hal itu. Perkataan Elihu ini bermaksud menunjukkan bah

Devotion 827 : KASIH DAN KEPEDULIAN

Gambar
Devotion 827 - Dr. Heintje Kobstan KASIH DAN KEPEDULIAN Bacaan: Ayub 36 Elihu kini memposisikan dirinya sebagai orang muda yang berhikmat dan yang sempurna pengetahuannya. Ia merasa telah memahami segala jalan pikiran Tuhan dibanding Ayub dan para sahabatnya. Sehingga dengan demikian ia berlaku sebagai pembela Tuhan dihadapan Ayub. Elihu bukan hanya melihat Allah sebagai pencipta tetapi juga penopang kehidupan. Dalam menopang kehidupan yang ada maka berlaku hukum sebab akibat yang menghasilkan berkat dan kutuk. Apa yang Ayub alami adalah merupakan pelanggaran terhadap hukum sebab akibat ini. Elihu melihat Allah sebagai suatu sistem yang bergerak dalam hukum sebab akibat, menghukum orang fasik dan memberkati orang benar. Dengan kedaulatan dan kemahakuasaan-Nya itu, Ia menyatakan keadilan dan murka-Nya atas keberdosaan manusia. Jadi, lewat penghukuman atas orang fasik maka mereka diingatkan Allah untuk bertobat dari dosa-dosanya. Ayub termasuk salah satu dari orang fasik yang sedang

Devotion 826 : DIA BUKAN TUHAN YANG JAUH

Gambar
Devotion 826 - Dr. Heintje Kobstan DIA BUKAN TUHAN YANG JAUH Bacaan: Ayub 35 Konsep yang ditawarkan Elihu adalah konsep transenden. Transenden adalah sebuah simbol formalitas yang membangun garis pemisah antara Tuhan dan Hamba sehingga seakan ada jarak yang timbul dari keduanya, Yaitu Tuhan sang maha agung berada diluar alam Kegandaan ini dan tak mampu dijangkau dan ditembus oleh manusia. Sehingga ketika Elihu membawa konsep ini  kepada Ayub maka kata Elihu, walaupun Ayub berdosa, apakah dosa, pelanggaran, kebenaran itu akan mempengaruhi Allah? Justru itu semua hanya berpengaruh pada hubungan dengan sesama manusia. Dengan kembali kepada ide bahwa Allah terlalu tinggi untuk bisa digoda agar merusakkan keadilan (ay. 4-8), Elihu kembali memperkenalkan hal itu dengan mengutip keluhan Ayub yang disangkal oleh kenyataan tersebut (ay. 2, 3). Kefasikan Ayub hanya akan merugikan dirinya sendiri. Perbuatan Ayub yang angkuh, menolak dan menyepelekan Allah (ayat 10-11, 14-16) maka Ayub akan me

Devotion 825 : PIKIRAN MANUSIA

Gambar
Devotion 825 - Dr. Heintje Kobstan PIKIRAN MANUSIA Bacaan: Ayub 34 Teodise berasal dari bahasa Yunani yaitu Theos yang artinya Allah dan dike yang artinya keadilan, kebenaran dan pembenaran. Jadi teodise berarti keadilan, kebenaran, atau pembenaran Allah (oleh manusia) atau usaha yang membenarkan tindakan-tindakan Allah. Dengan kata lain, teodise adalah pembenaran cara-cara Allah terhadap manusia, usaha mempertahankan kebaikan dan keadilan Allah dalam menakdirkan atau kejahatan moral dan alamiah maupun penderitaan manusia atau usaha untuk membuat kemahakuasaan dan kemaharahiman Allah cocok dengan existensi Allah, serta usaha mempertahankan keyakinan bahwa dunia inilah yang terbaik dari semua kemungkinan. Istilah ini muncul atau diperkenalkan oleh Gottfried Wilhelm Leibnizt ke dalam filsafatnya melalui karyanya essais de theodicea (mengenai kebaikan Allah, kebebasan manusia dan asal usul kemalangan) pada tahun 1710 untuk mencirikan topic pemerintahan Allah atas dunia dalam hubunganny

Devotion 824 : KESOMBONGAN ROHANI

Gambar
Devotion 824 - Dr. Heintje Kobstan KESOMBONGAN ROHANI Bacaan: Ayub 33 Kali ini Elihu mulai menyatakan pendapatnya bahkan menggurui Ayub. Elihu dengan berani menantang Ayub, walaupun ia masih muda. Mengapa demikian? Karena Elihu memiliki keyakinan bahwa Roh Allah telah memberikannya kehidupan. Dengan keyakinan itu ia menyatakan bahwa proses penciptaan Ayub dan dirinya adalah sama, dibentuk dari tanah liat. Apa yang dikatakannya adalah keluar dari hati yang jujur dan diucapkan dengan terang atau jelas menurut yang ia ketahui. Tetapi teguran Elihu kepada Ayub mempunyai kesamaan dengan tiga sahabatnya yang lain. Elihu mempersalahkan Ayub karena berani mempertanyakan kebijaksanaan Allah bahkan mempersalahkan keadilan Allah. Elihu menyatakan bahwa sebenarnya Ayub tidak mendengar teguran Tuhan karena Tuhan itu berbicara pada manusia dengan berbagai cara. Seperti lewat mimpi untuk mengingatkan manusia agar setia dan taat. Tetapi juga Tuhan bisa berbicara lewat penderitaan. Melalui penderit

Devotion 823 : DIAM DAN TENANGLAH

Gambar
Devotion 823 - Dr. Heintje Kobstan DIAM DAN TENANGLAH Bacaan: Ayub 32 Pada akhirnya segala tuduhan kepada Ayub berhenti. Segala sesuatu akan ada akhirnya, namun bagi Ayub meskipun 3 sahabatnya telah menuduhnya melakukan kejahatan dan berhenti melakukannya tetapi itu belum sepenuhnya berhenti. Masih ada Elihu, sahabatnya yang ke-4 yang sebelumnya hanya berdiam diri saja. Kini ia lagi yang akan melanjutkan gelar perkara ini. Elihu menjadi marah kepada Ayub, karena ia menganggap dirinya lebih benar dari pada Allah, dan ia juga marah terhadap ketiga orang sahabat itu, karena mereka mempersalahkan Ayub, meskipun tidak dapat memberikan sanggahan. Elihu selama ini bungkam karena ia menghormati kaum yang lebih tua, yaitu Ayub dan ketiga temannya. Namun ketika sudah tidak ada lagi respon dari Elifas, Bildad dan sofar, maka barulah Elihu berbicara. Inilah contoh bagi anak muda masa kini, yang gemas menyaksikan keadaan sekitarnya, tetapi harus berusaha menahan diri menanti giliran bicara. Yan

Devotion 822 : HIDUP DALAM INTEGRITAS

Gambar
Devotion 822 - Dr. Heintje Kobstan HIDUP DALAM INTEGRITAS Bacaan: Ayub 31 Puncak pembelaan Ayub terhadap dirinya ada di pasal ini. Ayub melakukan pembelaan itu karena menyangkut integritas yang telah ia hidupi selama ini. Pembelaan itu diberikan Ayub dalam bentuk rangkaian perkataan, 'jika saya melakukan dosa A maka biarlah B terjadi pada saya.' Para penafsir nas ini menghitung ada empat belas (dua kali tujuh) bentuk dosa yang Ayub nyatakan tidak pernah ia lakukan (dengan kutukan jika dirinya ternyata melakukan dosa tersebut). Angka tujuh dalam PL bermakna kegenapan. Dua kali tujuh menunjukkan kesungguhan Ayub membela perkaranya di hadapan Allah. Ayub membuka semua aspek kehidupannya di hadapan Allah untuk diuji kesalehannya. Baik dosa yang tersembunyi di dalam hati (ayat 1, 33-34), dosa perzinaan (ayat 9), dosa mengabaikan orang yang membutuhkan pertolongan (ayat 13, 16-17, 19-20, 31), dosa materialisme dan penyembahan berhala (ayat 24-27), maupun perbuatan dosa yang ekspl

Devotion 821 : JANGAN MERENDAHKAN ORANG LAIN

Gambar
Devotion 821 - Dr. Heintje Kobstan JANGAN MERENDAHKAN ORANG LAIN Bacaan: Ayub 30 Inilah pengakuan Ayub, bahwa ketika ia mengalami "kematangan" hidup, hidup dalam kemakmuran dan kejayaan, ia memandang rendah orang lain. Bahkan dalam pemandangannya, orang-orang tersebut terlalu hina untuk ditempatkan bersama anjing penjaga dombanya. Padahal orang-orang tersebut adalah orang yang lebih tua darinya. Ayub tidak memberi penghormatan kepada mereka yang lebih tua walaupun mungkin mereka hanya orang rendahan. Sekalipun Ayub melakukan banyak hal bahkan menjadi pembela bagi orang miskin disaat ia berada dalam "kematangan" hidupnya, namun ia tetap memandang sebelah mata mereka yang berada dibawahnya. Sampai akhirnya keadaan berbalik, Ayub terpuruk dan anak-anak dari kemiskinan berbalik menghujat dia. Mereka tidak mempedulikan kedahsyatan yang menimpa Ayub. Walaupun Ayub pernah menjadi pembela bagi orang miskin, tetapi itu tidak berarti karena Ayub tidak menghormati mereka.

Devotion 820 : KEMATANGAN HIDUP

Gambar
Devotion 820 - Dr. Heintje Kobstan KEMATANGAN HIDUP Bacaan: Ayub 29 Dalam pasal ini, Ayub mengenang kembali masa-masa jayanya dulu. Dimana ia bisa menikmati hidup dalam kesehatan, kebaikan, kejayaan, kemakmuran dan dimana ia juga mengalami perlindungan Tuhan. Ayuh tidak mengisahkan hidupnya di saat remaja tetapi pada waktu ia dalam "kematangan" hidup. Dalam kematangan hidup itu, ia mengalami persekutuan yang intim dengan Tuhan. Kebahagiaan pada hari-hari itu yang sekarang demikian dirindukan Ayub bukanlah kelimpahan hidup, melainkan hubungan penuh persahabatan dengan Allah yang darinya kemakmuran itu mengalir. Ayub telah mengalami proses bersama Tuhan untuk menuju kepada "kematangan" hidup. Sehingga ketika berada pada keadaan "kematangan hidup", ia dapat mengalami kebahagiaan yang sejati bersama Tuhan. Namun apa yang terjadi kemudian, bagi Ayub mungkin "kematangan" hidup saat itu merupakan pencapaian tertingginya. Selain hubungannya begitu in

Devotion 819 : JALAN MENUJU KEPADA HIKMAT

Gambar
Devotion 819 - Dr. Heintje Kobstan JALAN MENUJU KEPADA HIKMAT Bacaan: Ayub 28 Manusia adalah makhluk yang kuat tetapi terbatas. Dalam keterbatasannya, Tuhan memberikan kemampuan yaitu pengetahuan. Pengetahuan ini dipakai untuk mengolah tanah menjadi lahan pertanian. Tetapi selain pertanian, manusia juga diberikan pengetahuan untuk mengolah sumber daya alam berupa bahan tambang di dalam perut bumi. Manusia bisa menggali dan membuat jalur tambang untuk menemukan mineral berharga. Jalur-jalur itu bahkan tak terlihat oleh mata manusia dan burung udara serta jalurnya tak diketahui oleh binatang yang kuat sekalipun. Walaupun manusia memiliki pengetahuan namun terbatas, yaitu pengetahuan manusia tidak akan sempurna tanpa hikmat Tuhan. Itulah sebabnya, Ayub bertanya: "Di mana hikmat dapat diperoleh, di mana tempat akal budi?" (ayat 12). Jelaslah bahwa cara memperoleh hikmat berbeda dengan upaya menggali kepintaran. Allah memberikan kepintaran kepada manusia untuk dipergunakan men

Devotion 818 : UJIAN INTEGRITAS DAN IMAN

Gambar
Devotion 818 - Dr. Heintje Kobstan UJIAN INTEGRITAS DAN IMAN Bacaan: Ayub 27 Perjuangan Ayub untuk mempertahankan kebenaran tentang dirinya sungguh luar biasa. Ayub tetap dalam keyakinan yang penuh bahwa ia tidak bersalah seperti yang dituduhkan oleh para sahabatnya. Apalagi ketika mereka menyatakan Ayub sebagai orang fasik. Ibaratnya sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Tidak sedikit para tokoh iman yang berjuang bagi kebenaran Tuhan, divonis hukuman mati atau dibunuh akibat kesalahan yang tidak dilakukannya. Demi memperjuangkan kebenaran dirinya, maka Ayub mengeluarkan pernyataan "Demi Allah yang hidup, yang tidak memberi keadilan kepadaku, dan demi Yang Mahakuasa, yang memedihkan hatiku,.." Kalimat ini bukan merupakan acungan tinju menantang Tuhan, melainkan teriakan iman yang bertanya dari dalam pergumulan untuk memahami mengapa penderitaan harus terjadi menimpa dirinya. Seakan-akan hidup tidak adil bagi Ayub karena Ayub bukanlah orang fasik yang harus menanggung pender

Devotion 817 : BUKAN HANYA SEKEDAR TEORI

Gambar
Devotion 817 - Dr. Heintje Kobstan BUKAN HANYA SEKEDAR TEORI Bacaan: Ayub 26 Ayub melakukan sanggahan terhadap apa yang dikemukakan oleh Bildad. Pemikiran Bildad tidak didasari oleh pemahaman yang benar. Bildad hanya mengerti dalam pemahaman konseptual, artinya, Tuhan yang mereka pahami adalah Tuhan yang berupa konsep, ajaran-ajaran yang baku, sebuah kumpulan ide-ide yang diajarkan turun-temurun namun tidak pernah mereka alami secara pribadi. Tidak heran apabila kepercayaan iman mereka datar, karena mereka tidak diubahkan oleh penderitaan dan pergumulan Ayub. Bahkan mungkin saja para sahabat Ayub terjebak pada pengungkapan yang keliru tentang Allah seperti kebanyakan manusia yang berusaha mempelajari Allah melalui ilmu-ilmu kebatinan, pengalaman hidup, bahkan pemahaman teologis. Akibatnya, mereka hanya dapat memberikan penjelasan tentang Tuhan dan kehidupan yang sarat teori berdasarkan "teologi yang hambar" atau hanya konsep saja. Dalam perenungan Ayub, yang dalam dan men

Devotion 816 : TUHAN YANG JAUH NAMUN DEKAT

Gambar
Devotion 816 - Dr. Heintje Kobstan TUHAN YANG JAUH NAMUN DEKAT Bacaan: Ayub 25 Kali ini Bildad menyatakan bahwa Tuhan itu Maha Kuasa, dahsyat dan kekuasaanNya atas semesta. Dia yang memberikan damai dari tempat yang Maha Tinggi. Bildad memandang Allah sebagai Allah yang transenden. Allah yang transenden adalah Allah yang melampaui segala yang ada. Allah yang tidak terbatas untuk memimpin dunia. Allah yang tak terjangkau manusia karena kekudusanNya dan terhormat. Bagi Bildad, manusia tidak berarti apa-apa dihadapan Tuhan. Bagaimana manusia benar di hadapan Allah, dan bagaimana orang yang dilahirkan perempuan itu bersih? Bildad kembali menekankan salah satu aspek pandangan simplistisnya, bahwa Tuhan pasti benar dan tak terjangkau oleh gugatan manusia, sedangkan manusia adalah makhluk berdosa yang tak berharga. Namun jika manusia tidak benar dihadapan Allah, bagaimana mungkin Ia bisa berdiam di tengah manusia? Tuhan yang imanen berarti Tuhan berada di dalam struktur alam semesta serta

Devotion 815 : HIDUP DALAM ANUGERAH TUHAN

Gambar
Devotion 815 - Dr. Heintje Kobstan HIDUP DALAM ANUGERAH TUHAN Bacaan: Ayub 24 Hidup ini penuh misteri, ada hal-hal yang terjadi di bawah kolong langit ini yang tak dapat dipahami oleh manusia. Mengapa orang yang baik cepat mati sedangkan orang jahat tetap hidup sampai lanjut usia? Mengapa mereka yang hidup menghujat Tuhan tetap dapat menikmati hidup dengan nyaman? Mengapa orang benar harus menderita dan tidak dapat menikmati kehidupan? Mereka yang melakukan korupsi justru menduduki jabatan penting di tengah masyarakat, ataupun hal yang benar menjadi tidak benar dan yang tidak benar menjadi kebenaran? Dunia ini sedang berada dalam kekacauan dan pertanyaannya adalah dimanakah Tuhan? Hal ini juga yang dipertanyakan Ayub bahwa Allah seakan-akan acuh cuek terhadap kejahatan yang terjadi di muka bumi ini. Dimanakah Tuhan Sang Pencipta kehidupan? Apakah Ia telah selesai dengan pekerjaanNya dan membiarkan ciptaanNya berjalan sendirian? Dimanakah pemeliharaan Tuhan atas dunia ini? Bagaimana

Devotion 814 : JANGAN LARI MENINGGALKAN TUHAN

Gambar
Devotion 814 - Dr. Heintje Kobstan JANGAN LARI MENINGGALKAN TUHAN Bacaan: Ayub 23 Ayub membutuhkan kepastian dari Tuhan karena tekanan para sahabatnya semakin kuat atasnya. Ayub tidak ingin lagi untuk semakin lama tinggal dalam beradu argumentasi dengan mereka. Betapa sering kita melihat orang saling mengadu argumentasi mempertahankan pendapat mereka. Bahkan hal itu bukan saja terjadi di kancah perpolitikan saja tetapi dalam dapat gereja pun terjadi hal yang sama. Para sahabat Ayub menekannya dengan argumentasi yang secara membabi buta mencecarnya dengan iman mereka yang mungkin canggih tetapi dangkal. Kepastian apa yang ingin Ayub dapatkan dari Tuhan? Kepastian bahwa Ayub akan mendapatkan pembelaan Tuhan dihadapan para sahabatnya. Hal ini dikarenakan Ayub sudah tidak tahu bagaimana lagi untuk meyakinkan akan keberadaan dirinya yang tidak sesuai tuduhan mereka padanya. Dalam pasal ini, Ayub tahu bahwa jika Tuhan mengetahui jalan hidupnya. Jika Tuhan mengujinya maka ia akan timbul s

Devotion 813 : MENJADI PEMBELA TUHAN

Gambar
Devotion 813 - Dr. Heintje Kobstan MENJADI PEMBELA TUHAN Bacaan: Ayub 22 Sahabat adalah orang ketiga dalam kehidupan manusia, selain orang tua dan saudara, sebab sahabat adalah orang yang sangat dekat dengan kita, layaknya seorang saudara atau bahkan lebih. Sahabat bisa diartikan sebagai orang yang bisa paling jujur di dunia, sebab sahabat bisa mengomentari segala hal tentang kita meski itu akan menyakitkan, tapi tetap ia katakan, demi kebaikan sahabatnya. Persahabatan tidak terbentuk dalam sekejap namun melalui proses yang panjang dimana didalamnya melibatkan kepercayaan dan penerimaan serta keterbukaan dan kasih. Namun bagaimana kisah persahabatan Ayub dengan Elifas, Bildad dan Sofar. Tidak diketahui pasti apakah persahabatan yang mereka bina itu terjadi sebelum Ayub menjadi kaya atau ketika sudah menjadi kaya. Karena jika diperhatikan tuduhan Elifas kepada Ayub bahwa Ayub telah melakukan dosa sosial. Dosa-dosa sosial itu berupa menerima gadai, merampas milik orang yang menderita

Devotion 812 : KEDAULATAN TUHAN ATAS HIDUP MANUSIA

Gambar
Devotion 812 - Dr. Heintje Kobstan KEDAULATAN TUHAN ATAS HIDUP MANUSIA Bacaan: Ayub 21 Perbedaan persepsi akan menimbulkan perdebatan yang berkepanjangan jika tidak ada hal yang dapat menyamakan persepsi itu. Begitulah yang terjadi antara Ayub dan para sahabatnya. Para sahabat menuntut agar Ayub mengakui kesalahannya dan penderitaan itu berasal dari Tuhan yang menghukum. Tetapi Ayub dalam pasal ini mematahkan tuduhan mereka kepadanya tentang orang fasik. Disini Ayub mengadakan perbedaan antara dirinya dan orang fasik. Mereka tidak dapat membuktikan bahwa Ayub berdosa. Akan tetapi, mereka memaksakan bahwa penderitaan Ayub adalah bukti Ayub berdosa. Inilah keadaan dimana para sahabat Ayub menempatkan diri sebagai pembelanya Tuhan dan yang mewakili Tuhan untuk menghakimi Ayub. Jadi jelasnya dalam pasal ini, merupakan penjelasan dari suatu persoalan klasik yaitu persoalan teodise (soal pengaturan dan kebaikan ilahi dalam dunia yang di dalamnya terjadi penderitaan). Para sahabat Ayub me

Devotion 811 : PERSPEKTIF YANG BENAR

Gambar
Devotion 811 - Dr. Heintje Kobstan PERSPEKTIF YANG BENAR Bacaan: Ayub 20 Kata demi kata yang diucapkan sahabat Ayub telah menyakiti hati Ayub. Mungkin alangkah baiknya jika mereka langsung membunuh Ayub sehingga ia tidak menderita lagi daripada di serang dengan fitnah. Ibaratnya luka hati Ayub terus dikorek-korek dan disiram cuka, betapa perihnya dan menderitanya Ayub. Jika mereka yang menuduh Ayub sepertinya hal itu adalah wajar karena buktinya Ayub menderita. Namun ketika Ayub berbalik menegur mereka maka Zofar pun bereaksi dengan mengatakan bahwa teguran Ayub telah menghinanya. Para sahabat Ayub beranggapan bahwa Ayub adalah orang fasik karena perbedaan prinsip teologis. Bagi mereka penderitaan Ayub diakibatkan oleh dosa atau kesalahannya. Tetapi Ayub memandangnya berbeda. Menurut semua sahabat Ayub itu, kemakmuran orang fasik itu sifatnya semu dan tidak bertahan lama. Elifas menekankan kegelisahan batin orang fasik yang berkesinambungan; dan Bildad menunjuk kepada kehancuran ya

Devotion 810 : PERKATAAN YANG MENYAKITKAN

Gambar
Devotion 810 - Dr. Heintje Kobstan PERKATAAN YANG MENYAKITKAN Bacaan: Ayub 19 Fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Mungkin kalimat ini sering kita dengar atau baca. Fitnah adalah tuduhan suatu perbuatan kepada orang lain, dimana sebenarnya orang yang dituduh tersebut tidak melakukan perbuatan yang dituduhkan. Perkataan para sahabatnya berulangkali menghina dan menyakiti hatinya. Dengan perkataan, mereka seolah-olah ingin menari diatas penderitaan Ayub. Lidah memang tak bertulang tetapi ketajaman kata yang keluar darinya lebih tajam dari pisau. Inilah yang menyakitkan dan meremukkan Ayub dan membuat ia berespon keras bahkan sampai memohon belas kasihan dari mereka. Ayub menyadari keadaannya tetapi ia tetap tidak mengakui segala tuduhan para sahabatnya. Sebagai akibat keyakinannya, semua orang menjauhkan diri dari Ayub, termasuk teman, keluarga yang paling dekat bahkan anak-anak pun menghinanya. Tekanan yang Ayub rasakan sangat berat bahkan ia berjuang untuk hidup didalam kesendiriann

Devotion 809 : TUDUHAN PALSU

Gambar
Devotion 809 - Dr. Heintje Kobstan TUDUHAN PALSU Bacaan: Ayub 18 Pernahkah kita mengalami tuduhan palsu? Sesuatu yang tidak kita lakukan atau kerjakan kemudian dituduhkan kepada kita? Bagaimana perasaan kita ketika dituduhkan hal seperti itu? Apa yang kita lakukan untuk menghadapi tuduhan palsu tersebut? Sekali lagi Bildad menyatakan teguran yang berupa tuduhan kepada Ayub. Ayub dituduh sebagai orang fasik walaupun tidak secara langsung hanya berupa gambaran tetapi itu tertuju pada Ayub. Siapakah “Orang fasik” = רשׁע raw-shaw' (Bhs. Ibrani) artinya orang yg tidak beriman; orang yang tahu Tuhan namun tidak melakukan Firman Tuhan. Sudah pasti bahwa tuduhan ini sangat menyakitkan hati. Paul Johnson mengingatkan kita akan fakta sejarah bahwa pada 1882 seorang filsuf berkebangsaan Jerman, Friedrich Nietzsche, memproklamasikan bahwa Tuhan sudah mati! Namun, kenyataan memperlihatkan bahwa yang mati adalah Nietzsche, bukan Tuhan. Siapakah Nietzsche? Ia berasal dari keluarga Kristen dan